Apakah Benar Android Lebih Gampang Dibobol daripada iPhone?

    0
    52
    Android

    Android merupakan sistem operasi terbesar saat ini dengan 1,4 miliar pengguna. Ini berkat sifat keterbukaannya alias open source, sehingga fleksibel digunakan berbagai vendor perangkat mobile. Meski demikian, ada dampak buruk dari keterbukaan Android, yakni keamanan yang tak terstandarisasi. Tiap ponsel Android memiliki jadwal update berbeda-beda, kadang rutin kadang tidak.

    Alhasil, banyak celah keamanan yang ditemukan yang berpotensi untuk dibobol. Penyebaran malware menjadi masif beberapa tahun terakhir. Lantas, benarkah Android benar-benar lebih mudah dibobol alias diretas (di-hack) ketimbang sistem operasi mobile lain?

    Baca Juga: Ketahui 5 Fitur Android yang Jarang Diketahui Berikut Ini!

    Menurut Director of Android Security, Adrian Ludwig, ada kesalahan persepsi yang menyebar di masyarakat luas, yang semata-mata merujuk pada banyaknya malware bermunculan di sistem operasi Android. Padahal, ia mengklaim Android telah ditingkatkan keamanannya secara signifikan dari masa ke masa.

    “Dari kriptografi dan sandboxing yang kami tingkatkan, eksploitasi OS Android semakin sulit,” ucapnya. Sederhananya, Ludwig mengatakan bahwa ponsel Android yang sering di-update dijamin aman. Masalahnya, otoritas untuk pembaruan sistem operasi itu ada di tangan vendor.

    Menurut tim Android, setengah dari total penggunanya tak menerima update Android selama satu tahun. Hal ini berisiko, sebab tiap pembaruan memberikan amunisi baru pada ponsel agar tak gampang dieksploitasi. Terkhusus untuk Android versi lama, ada banyak celah yang muncul. Kebanyakan vendor tak menyuplai update untuk perangkat mereka. Saat ini lebih dari 800 celah yang dikenali. AV-Test adalah organisasi yang memberikan peringkat untuk antivirus.

    Jika dijabarkan, pada April 2017, hanya 4,9 persen dari ponsel Android yang sudah memakai versi Nougat 7.0 atau 7.1 teranyar. Jumlah itu tak bisa dibilang besar. Sementara itu, versi yang lebih lawas yakni Marshmallow 6.0 digunakan 31,2 persen. Sebanyak 31 persen masih betah dengan versi Lollipop 5.0 dan 5.1. Sisanya menggunakan Android KitKat 4.4 hingga yang lebih lawas.

    Zimperium merupakan perusahaan keamanan mobile. Drake sendiri menemukan celah bernama “Stagefright” di Android pada 2015 lalu. Celah itu memberikan akses pada peretas untuk mengontrol perangkat Android dari kode berbahaya pada file audio dan video. Hampir 95 persen perangkat Android berisiko diserang Stagefright kala itu. Namun, setelah diperbaiki oleh tim Android dan dirilis sistem operasi baru, kini tak sampai 1 persen yang masih berisiko atas Stagefright.

    Masalah fragmentasi pada Android karena keterbukaannya memang sulit teratasi. Mendorong vendor untuk menyediakan pembaruan sistem operasi secara berkala nyatanya belum efektif. Hal ini yang kemudian membuat netizen menobatkan iOS sebagai sistem operasi yang aman, sebab bersifat tertutup hanya untuk perangkat buatan Apple. Hal ini kemudian dibantah Drake. “Ada kesan bahwa keamanan iOS lebih baik dari Android. Tapi ini tak semata-mata benar juga,” kata dia.

    Drake menjelaskan bahwa keterbukaan Android membuat para peneliti lebih mudah mengidentifikasi celah dan memberikan solusi. Sementara itu, iOS yang lebih tertutup membuat peneliti sulit mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Morgenstern sepakat dengan poin tersebut. Meski demikian, Morgenstern mengindikasikan Android lebih berisiko karena prinsipnya benar-benar berbeda dengan iOS.

    “Pengguna Android mudah menginstal aplikasi dari sumber mana saja. Fakta ini membuat aplikasi berbahaya dengan mudah masuk ke perangkat. iOS lebih ketat dalam hal ini, sehingga risikonya juga semestinya lebih kecil,” kata Morgenstern. Sekali lagi, salah satu cara untuk meningkatkan keamanan Android adalah rajin memperbaruinya. Namun, hingga kini belum jelas kapan semua perangkat Android disematkan versi Nougat.